Top 5 This Week

Related Posts

Somuntul Bunga Jalan Pasaribu Gelar Tuan Sariburaja, Perintis Kemerdekaan Asal Pangururan yang Mewariskan Kesetaraan Gender, Jiwa Politik Dan Pengusaha

Pangururan, tarombotvmedia — Nama Somuntul Bunga Jalan Pasaribu, yang dikenal dengan gelar Tuan Sariburaja, menjadi bagian dari kisah orang-orang Pangururan yang bukan hanya dikenal karena kiprahnya pada zamannya, tetapi juga karena nilai-nilai kehidupan yang diwariskan kepada keturunannya.

Bagi keluarga, SB Pasaribu bukan sekadar seorang tokoh politik dan pengusaha. Ia adalah sosok yang meninggalkan pelajaran tentang keberanian, kemandirian, kesetaraan laki-laki dan perempuan, serta pentingnya menjaga harta peninggalan keluarga.

Ia berasal dari Desa Janji Martahan, namun kemudian dikenal luas di Pangururan, Samosir. Kedekatannya dengan masyarakat Pangururan juga tidak terlepas dari hubungan keluarga melalui garis boru Naibaho Sitangkaraen.

Pada masanya, SB Pasaribu dikenal sebagai politikus. Kiprahnya bahkan membawa dirinya bergaul dengan tokoh-tokoh politik nasional pada masa awal Republik Indonesia. Dalam kisah keluarga yang diwariskan turun-temurun, ia juga disebut memiliki hubungan pertemanan dengan tokoh politik nasional yang kemudian menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia.

Tidak hanya di dunia politik, SB Pasaribu juga dikenal sebagai pengusaha. Ia menjalankan usaha angkutan umum dan kilang padi, sesuatu yang pada zamannya membutuhkan keberanian, modal dan jaringan yang tidak kecil.

Kesetaraan Gender Sudah Dipraktikkan Sejak Zaman Itu

Salah satu warisan paling kuat dari SB Pasaribu justru terlihat dalam kehidupan keluarganya.

SB Pasaribu tidak memiliki anak laki-laki. Namun keadaan tersebut tidak membuatnya menganggap anak perempuannya berada di bawah laki-laki dalam mengelola kehidupan keluarga maupun usaha.

Sebaliknya, ia memberikan kepercayaan dan kewenangan penuh kepada anak perempuan pertamanya, Rusli Aminah boru Pasaribu, untuk menangani usaha keluarga.

Rusli Aminah boru Pasaribu dipercaya mengelola usaha angkutan umum dan kilang padi milik keluarganya.

Bagi keluarga, keputusan tersebut menjadi bukti bahwa SB Pasaribu telah mempraktikkan sebuah prinsip yang hingga kini terus diperjuangkan: kemampuan seseorang tidak ditentukan oleh jenis kelaminnya.

Perempuan diberi kesempatan untuk memimpin ketika memang memiliki kemampuan dan kepercayaan dari keluarga.

Nilai itulah yang kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menantu Pun Diberi Kepercayaan

Setelah Rusli Aminah boru Pasaribu menikah dengan Oloan Herlin Simarmata, dukungan SB Pasaribu terhadap keluarga putrinya tidak berhenti.

Oloan Herlin Simarmata menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Dalam kisah keluarga, ia kemudian memperoleh penempatan pertama sebagai hakim di Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli sekitar akhir 1965-an, setelah mendapat rekomendasi dari tokoh politik yang dikenalnya melalui lingkungan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Bagi SB Pasaribu, penempatan tersebut bukan hanya persoalan karier menantunya.

Ada pertimbangan keluarga dan usaha di baliknya.

Dengan posisi Oloan Herlin Simarmata, SH sebagai hakim, keluarga tetap dapat memantau perkembangan usaha angkutan yang melayani rute Medan–Samosir.

Ini menunjukkan bagaimana SB Pasaribu melihat keluarga bukan hanya sebagai hubungan darah, tetapi juga sebagai jaringan yang harus saling menopang.

Dari Pangururan ke Medan, Kemudian Jakarta

Memasuki sekitar tahun 1960-an, keluarga SB Pasaribu kemudian pindah ke Medan dan tinggal di kawasan Padang Bulan.

Perjalanan usaha keluarga pun berkembang.

SB Pasaribu bersama istrinya, Tamelan boru Naibaho Sitangkaraen, kemudian pindah ke Jakarta dan membuka usaha angkutan dalam kota dengan menggunakan bus Robur merah.

Mereka tinggal di Jalan dr Makaliwe, Grogol, Jakarta Barat.

Namun perjalanan hidup tidak selamanya berjalan sesuai rencana.

Tamelan boru Naibaho Sitangkaraen meninggal dunia di Jakarta pada 1971 setelah menderita kanker.

Duka keluarga kembali datang pada 1972 ketika menantunya Raja Patuan Sori Sinambela (cucu Raja Sisingamangara XII) suami dari putri bungsunya Maria Magdalena boru Pasaribu,   meninggal dunia akibat kecelakaan setelah ditabrak di Jakarta

Dua peristiwa tersebut membuat SB Pasaribu mengalami duka yang sangat dalam.

Semangatnya menjalankan usaha pun menurun.

Ketika Harta Bukan Lagi Sekadar Harta

Di sinilah muncul bagian penting dalam sejarah keluarga SB Pasaribu.

Menurut kisah yang disampaikan keluarga, SB Pasaribu memahami kuatnya struktur adat Batak pada zamannya, khususnya dalam persoalan pewarisan ketika seorang laki-laki tidak memiliki anak laki-laki.

Karena itu, ia mengambil langkah yang oleh keluarga dipandang sebagai strategi untuk menyelamatkan aset yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.

SB Pasaribu kemudian dinyatakan berada dalam kondisi tidak mampu membayar cicilan utang-utangnya.

Sejumlah asetnya di Pangururan akhirnya masuk dalam proses pelelangan melalui Kantor Lelang Tapanuli Utara pada 1972.

Tiga aset tersebut disebut dilelang dengan nilai keseluruhan sekitar Rp1,7 juta pada masa itu.

Pemenangnya adalah menantunya sendiri, Oloan Herlin Simarmata, SH, yang ketika itu berusia sekitar 34 tahun dan sedang bertugas sebagai Wakil Ketua Pengadilan Negeri Medan.

Dengan proses lelang tersebut, tiga aset itu kemudian secara hukum beralih kepada Oloan Herlin Simarmata, yakni:

  • sebidang tanah di Jalan Sisingamangaraja, Pangururan;

  • satu rumah di Jalan Tanah Lapang, Pangururan;

  • satu rumah di Jalan Sianjur mula mula, Pangururan.

Bagi generasi keluarga berikutnya, peristiwa tersebut bukan sekadar cerita tentang transaksi dan aset.

Di baliknya terdapat sebuah pesan tentang bagaimana seorang ayah berusaha memikirkan keberlangsungan harta keluarga ketika menghadapi perubahan zaman, adat dan kondisi keluarga.

Politik, Pengusaha dan Perintis Kemerdekaan

SB Pasaribu juga dikenang sebagai salah satu politikus pada zamannya.

Kiprah politiknya membuat ia memiliki jaringan dengan sejumlah tokoh nasional. Dalam cerita keluarga, bahkan disebutkan bahwa Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pernah berkunjung ke Balige dalam konteks perjalanan politik pada masa itu atas undangan SB Pasaribu

Di luar politik, SB Pasaribu dikenal sebagai pengusaha yang memiliki usaha angkutan umum dan kilang padi.

Perpaduan antara politik, usaha dan kemampuan membangun jaringan membuat namanya dikenal di lingkungan masyarakat Batak pada zamannya.

Atas kiprahnya dalam perjuangan kemerdekaan, SB Pasaribu juga disebut memperoleh anugerah Pemerintah Republik Indonesia sebagai Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dengan demikian, warisannya tidak hanya berupa aset, tetapi juga nama dan sejarah perjuangan.

Mengharumkan Marga Pasaribu di Pangururan

Meskipun berasal dari Desa Janji Martahan, SB Pasaribu mampu membangun tempat tersendiri di tengah masyarakat Pangururan.

Hubungan keluarga melalui Naibaho Sitangkaraen turut memperkuat kedekatannya dengan masyarakat setempat.

Bagi keturunannya, hal tersebut menjadi bagian dari kebanggaan.

SB Pasaribu telah memperlihatkan bahwa seseorang tidak harus lahir di sebuah wilayah untuk kemudian memberikan kontribusi dan diterima oleh masyarakat di wilayah tersebut.

Ia membangun namanya melalui kerja, hubungan sosial, politik dan usaha.

Bagi Cucunya Ada Warisan yang Lebih Mahal dari Tanah dan Rumah

Kini, sebagian warisan fisik yang berkaitan dengan perjalanan keluarga tersebut berada di Pangururan.

Nilai tanah dan rumah yang dahulu mungkin dianggap biasa, kini telah mengalami perubahan nilai yang sangat besar mengikuti perkembangan Kabupaten Samosir dan Pangururan.

Namun bagi Dr drh R Wendeilyna Simarmata MSi (CMed CPP CIJ CPW), salah seorang cucu SB Pasaribu dan Tamelan boru Naibaho Sitangkaraen, warisan terbesar opungnya bukan semata-mata aset.

Ada nilai kehidupan yang jauh lebih penting.

Ia melihat darah politik, keberanian berbicara, kecintaan terhadap dunia jurnalistik dan prinsip persamaan hak perempuan dan laki-laki sebagai bagian dari nilai yang diwariskan SB Pasaribu kepada generasi sesudahnya.

“Saya bangga menjadi cucu Opung SB Pasaribu dan Opung Tamelan boru Naibaho Sitangkaraen. Darah berpolitik yang ada pada saya turun dari Opung SB Pasaribu. Darah jurnalis juga dari Opung SB Pasaribu. Mendukung persamaan hak perempuan dan laki-laki juga saya lihat dari Opung SB Pasaribu.”

Bagi Wendeilyna, keberadaan aset keluarga di Pangururan juga merupakan amanah.

Ia menyadari bahwa aset-aset tersebut memiliki nilai ekonomi yang semakin tinggi seiring perkembangan zaman.

Karena itu, menjaga peninggalan keluarga bukan hanya soal mempertahankan tanah dan bangunan.

Menjaga aset berarti menjaga sejarah.

Menjaga sejarah berarti menjaga ingatan tentang orang-orang yang pernah bekerja keras sebelum generasi sekarang lahir.

Dan bagi keluarga SB Pasaribu, nama Somuntul Bunga Jalan Pasaribu gelar Tuan Sariburaja bukan hanya nama seorang leluhur.

Ia adalah pengingat bahwa seorang ayah yang hidup pada zamannya telah meninggalkan pesan yang tetap relevan sampai hari ini: perempuan harus diberi kepercayaan, keluarga harus saling menopang, usaha harus diperjuangkan, dan warisan harus dijaga agar tidak putus di tengah jalan.

Boleh jadi, setelah SB Pasaribu, belum banyak lagi muncul pengusaha, politikus bermarga Pasaribu dengan kiprah serupa di Pangururan.

Namun nama dan nilai yang ditinggalkannya masih hidup melalui keturunannya.

Dan selama keturunannya masih menjaga tanah, nama serta nilai yang diwariskan itu, sejarah SB Pasaribu tidak benar-benar selesai (red)

Popular Articles