Lumban Suhi-Suhi Toruan, tarombotvmedia – Rumah adat Batak Toba bukan sekadar bangunan yang dikenal dari siluet atapnya yang menjulang, dinding yang miring, deretan tiang kayu, maupun ukiran Gorga yang menghias bagian depannya. Di balik bentuk fisiknya tersimpan sistem pengetahuan arsitektur tradisional yang lengkap—dengan istilah khas Batak Toba untuk tiap elemennya, baik yang berfungsi sebagai penopang struktur, penyusun dinding dan atap, maupun bidang penempatan ornamen.
Karena itu, memahami rumah adat Batak Toba tidak cukup hanya dengan mengenal motif Gorga. Nama, letak, dan fungsi bagian-bagian konstruksinya adalah bagian tak terpisahkan dari warisan budaya itu sendiri.
Hal ini terlihat jelas dalam diagram pemetaan elemen dan ornamen rumah adat Batak Toba yang termuat dalam penelitian “Kajian Ornamen Gorga di Rumah Adat Batak Toba” karya Dearma A. Saragih, Yulianto, dan Raimundus Pakpahan, diterbitkan dalam ALUR: Jurnal Arsitektur, Jilid 2 Nomor 1, Tahun 2019. Penelitian ini mengambil lokasi studi di Desa Wisata Tomok, Huta Siallagan, dan Huta Bolon, Kabupaten Samosir.
Diagram tersebut memuat beragam istilah: ture-ture, parhomhom, dorpi jolo, sande-sande, tomboman adop-adop, songsong boltok, halang gordang, sitindangi, sijongjongi, pusu-pusi ni santung-santung, santung-santung, ulu paung, basiha, ransang, batu-batu, balatuk, parholip unjur, singa-singa, hingga adop-adop. Penomoran yang tidak berurutan mengisyaratkan bahwa daftar ini bukan sekadar daftar motif hiasan, melainkan gambaran menyeluruh bangunan.
Istilah Konstruksi ≠ Istilah Ornamen
Satu hal yang perlu ditegaskan sejak awal: tidak semua nama yang tercantum adalah nama motif Gorga.
Penelitian tahun 2019 itu sendiri mendefinisikan Gorga sebagai seni ukir atau pahatan yang umumnya terdapat pada permukaan luar rumah adat. Sementara diagram yang digunakan memetakan seluruh elemen bangunan—termasuk komponen struktur penopang. Istilah seperti basiha, ransang, balatuk, sitindangi, dan sijongjongi merujuk pada bagian bangunan, bukan secara otomatis menjadi nama motif hiasan.
Dengan kata lain, rumah adat adalah satu kesatuan sistem bangunan; Gorga adalah ungkapan seni yang ditempatkan pada bagian-bagian tertentu dari sistem tersebut. Menggabungkannya tanpa pembedaan dapat melunturkan makna asli istilah-istilah warisan tersebut.
Ture-ture, Parhomhom, dan Dorpi Jolo: Bagian Dinding dengan Makna Tepat
Ketiga istilah ini menempati bidang dinding atau badan rumah. Kehadirannya memperlihatkan betapa rinci pengetahuan masyarakat Batak Toba terhadap bangunan mereka.
Dalam literatur arsitektur tradisional, ture-ture, dorpi jolo, dan parhomhom (sering tertulis parhongkom) memang diakui sebagai nama bagian dinding depan rumah. Misalnya, dorpi jolo tidak sekadar berarti “wajah depan rumah”—istilah ini menunjuk pada unsur kayu vertikal di bagian muka bangunan. Ketepatan seperti ini penting agar istilah lokal tidak kehilangan makna saat dialihbahasakan.
Sande-sande: Di Mana Struktur Bertemu Seni
Sande-sande juga tercatat sebagai elemen penyusun dinding yang mengatur hubungan antarbagian badan rumah. Penelitian pada Rumah Bolon di Samosir mencatat bahwa bagian ini sekaligus menjadi permukaan tempat Gorga diukir.
Ini memperlihatkan karakter khas arsitektur Batak Toba: satu elemen dapat sekaligus menopang struktur dan menjadi media ungkapan estetis serta simbolik. Fungsi bangunan dan nilai seni menyatu, bukan terpisah.
Songsong Boltok dan Halang Gordang: Ruang, Struktur, dan Kehidupan Sosial
Songsong boltok adalah bagian konstruksi di area muka bangunan yang berhubungan dengan kerangka atap bagian atas. Sementara itu, halang gordang bukan sekadar hiasan—sebagaimana dijelaskan dalam dokumentasi arsitektur tradisional Sumatera Utara, ini adalah ruang atau tempat di mana alat musik gendang dan gong dimainkan, sehingga kesenian tampak dan terdengar ke halaman rumah. Istilah ini mengaitkan bangunan langsung dengan aktivitas sosial dan budaya masyarakatnya.
Sitindangi dan Sijongjongi: Jangan Tertukar dengan Sijonggi
Ini adalah salah satu perbedaan yang paling sering keliru. Sijongjongi berbeda dengan Sijonggi.
Dalam konstruksi rumah adat, sitindangi dan sijongjongi adalah penopang kerangka atap bagian atas yang disebut bungkulan, yang bertumpu pada tiang ninggor. Keduanya adalah bagian struktur, bukan ornamen.
Sementara itu, Sijonggi adalah nama salah satu motif Gorga yang digambarkan berupa kepala lembu jantan. Perbedaan satu suku kata dapat mengubah makna dari “penopang bangunan” menjadi “motif hiasan”. Menggabungkan keduanya dapat mengaburkan pengetahuan arsitektur yang sesungguhnya.
Pusu-pusi ni Santung-santung dan Santung-santung: Rinci di Puncak Atap
Pada kerangka atap terdapat istilah yang membedakan bagian penyangga utama dan bagian ujungnya: santung-santung dan pusu-pusi ni santung-santung. Adanya istilah khusus untuk bagian yang sekecil ini membuktikan kekayaan kosakata teknis masyarakat Batak Toba—bukan sekadar hiasan, melainkan pemahaman mendalam tentang susunan dan kekuatan bangunan.
Ulu Paung: Simbolik, Namun Bukan Satu-satunya Makna
Ulu Paung adalah elemen paling dikenal di puncak atap, yang umum dimaknai sebagai lambang perlindungan, kewibawaan, dan kekuatan. Penelitian terbaru tahun 2025 tentang Rumah Bolon di Desa Siallagan juga mencatat pemaknaan serupa.
Namun perlu diingat: makna ini bukan berlaku tunggal dan seragam di semua rumah. Penelitian lapangan di Samosir memperlihatkan bahwa jenis, letak, dan bentuk Gorga dapat berbeda antar satu rumah dengan rumah lainnya—termasuk antara Rumah Bolon Tomok Parsaoran dan Rumah Bolon Siallagan. Pemaknaan simbolik perlu disampaikan sebagai penafsiran yang tumbuh dalam konteks tertentu, bukan dogma yang mengikat semua bangunan.
Singa-singa: Ornamen Penuh Makna
Singa-singa adalah salah satu motif Gorga yang paling dikenal luas. Berbagai sumber mengaitkannya dengan perlindungan, wibawa, hukum, dan kebenaran. Perbedaan penekanan makna antarpeneliti tidak perlu dianggap pertentangan—dalam kajian budaya, satu simbol dapat dibaca beragam tergantung konteks masyarakat, lokasi, dan kerangka berpikir penelitinya.
Adop-adop dan Tomboman Adop-adop: Motif vs Tempatnya
Adop-adop adalah motif berbentuk menyerupai payudara perempuan yang dimaknai sebagai lambang kesuburan dan kelangsungan hidup. Namun berbeda dengan tomboman adop-adop—yang merujuk pada papan datar di bagian depan rumah, di balik dorpi jolo, yaitu tempat di mana ornamen itu ditempatkan.
Sekali lagi: nama tempat berbeda dengan nama hiasannya. Ketelitian membaca diagram dan istilah aslinya sangat menentukan agar tidak salah memahami warisan budaya ini.
Bagian Bawah Rumah: Tiang, Tangga, dan Fondasi Pengetahuan
Basiha, ransang, batu-batu, dan balatuk adalah nama bagian struktur di bagian bawah rumah. Basiha dan ransang berkaitan dengan tiang penyangga utama; balatuk adalah tangga; batu-batu adalah fondasi penumpu. Bagian ini bukan sekadar ruang kosong—ia adalah fondasi fisik sekaligus simbolik yang menopang seluruh bangunan.
Tiga Warna, Tiga Makna: Merah, Hitam, Putih
Gorga tak dapat dipisahkan dari tiga warna khasnya: merah, hitam, dan putih. Setiap warna memiliki makna tersendiri, dan bersama bentuk serta letaknya membentuk satu kesatuan bahasa visual. Sebagaimana ditulis Daulat Saragi, bentuk, warna, dan makna adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan dalam membaca pesan budaya yang tersirat.
Gorga Lebih dari Sekadar Hiasan
Penelitian-penelitian yang ada sepakat: Gorga bukan sekadar dekorasi. Ia adalah bahasa visual kebudayaan. Tulus Pranto Siburian (2022) menjelaskan bahwa setiap bentuk, letak, dan warnanya mengandung fungsi dan pesan tertentu. Daulat Saragi menegaskan bahwa ornamen ini mengandung nilai pendidikan dan estetika—rumah yang terukir indah adalah media komunikasi antarwarga dan antargenerasi.
Warisan yang Harus Tetap Hidup
Pada akhirnya, mengenal rumah adat Batak Toba tidak cukup hanya dengan berkata: “Itu rumah Batak karena atapnya melengkung dan ada Gorga-nya.” Pemahaman itu terlalu dangkal.
Berbagai gugatan perdata di Pengadilan Negeri Balige, mengandalkan bukti adanya Rumah Batak di areal itu lalu keturunannya mengaku sebagai ahli waris Tungga Ni Huta/Sipukka Huta, Padahal Rumah Batak memiliki ornamen dengan arti khusus. Jika Rumah Batak itu tak memiliki onamen khusus, mungkinkah Rumah Batak itu merupakan peninggalan Tungga ni Huta/Sipukka Huta ?
Pembina Yayasan Tarombo Dalihan Natolu-Dr drh R Wendeilyna Simarmata MSI (CMed CPP CIJ CPW) menjelaskan bahwa Rumah Batak memiliki tata nama, tata susun, teknik bangun, dan makna yang saling mengait. Majelis Hakim yang memeriksa perkara perebutan tanah warisan dengan menyodorkan memiliki bukti Rumah Batak peninggalan dan mengaku sebagai keturunan Tungga Ni Huta/Sipukka Huta, harus cermat, teliti dan penuh kehati hatian. Ornamen harus tampak di Rumah Batak Tungga Ni Huta/Sipukka Huta.
Karena itu, pelestarian tidak hanya berarti menjaga dinding dan atap agar tetap berdiri. Nama bagian, teknik pembuatan, makna istilah, dan cerita di baliknya juga harus diwariskan.
Jangan sampai bangunannya masih tegak berdiri, tetapi pengetahuannya sudah runtuh. Ketika satu istilah hilang dari ingatan, yang lenyap bukan sekadar kata—melainkan potongan kearifan yang telah diwariskan turun-temurun selama berabad-abad.
Daftar Sumber
- Saragih, D. A., Yulianto & Pakpahan, R. (2019). Kajian Ornamen Gorga di Rumah Adat Batak Toba (Studi Kasus: Di Kawasan Desa Wisata Tomok, Huta Siallagan dan Huta Bolon di Kabupaten Samosir). ALUR: Jurnal Arsitektur, 2(1), 1–14. DOI: 10.54367/alur.v2i1.368.
- Siburian, T. P. (2022). Bentuk Visual dan Makna Simbolik Gorga Batak Toba. Journal of Contemporary Indonesian Art, 8(1), 49–57. DOI: 10.24821/jocia.v8i1.7047.
- Saragi, D. Nilai Pedagogis dan Nilai Estetika yang Terkandung dalam Makna Motif Ornamen Tradisional Rumah Adat Batak Toba. Universitas Negeri Medan.
- Nainggolan, M. C., Siregar, I. & Purnomo, B. (2025). Makna Ornamen Gorga Rumah Bolon di Desa Siallagan Samosir. FLORESIENSIS, 4(1), 14–23. DOI: 10.35508/floresiensis.v2i1.21423.
- Dokumentasi Arsitektur Tradisional Daerah Sumatera Utara. Kemendikbudristek.

