Top 5 This Week

Related Posts

Kebesaran Hati Mangga Albinus Simarmata Gelar Voorzitter, Izinkan Holi-Holi Manjur Boru Simarmata Naik ke Tambak Keluarga

Lumban Suhi-Suhi Toruan, tarombotvmedia — Ada kisah dalam keluarga besar Simarmata yang tidak hanya berbicara tentang adat, tetapi juga tentang kebesaran hati seorang saudara laki-laki dalam menghormati saudara perempuannya.
Kisah itu datang dari Mangga Albinus Simarmata gelar Voorzitter, tokoh yang dikenal pernah menjabat sebagai Ketua Umum Punguan Simarmata se-Indonesia periode 1973–1986 sekaligus salah seorang pemrakarsa pembangunan Tugu Simarmata di Desa Simarmata, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir.
Di tengah kuatnya tradisi Batak mengenai garis keturunan, tambak keluarga dan tempat peristirahatan leluhur, Mangga Albinus menunjukkan sebuah sikap yang dikenang hingga generasi cucunya.
Ia mengizinkan holi-holi atau tulang-belulang ito/saudara perempuannya, Manjur boru Simarmata, untuk ikut dinaikkan dalam prosesi panakok saring-saring dan ditempatkan di tambak keluarga Simarmata di Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Dusun 3 Alngit.
Tambak tersebut berada di areal belakang rumah OH Simarmata, SH.
Keputusan tersebut menjadi istimewa karena Manjur boru Simarmata adalah perempuan. Dalam konstruksi adat Batak yang mengenal berbagai aturan mengenai hubungan marga, keturunan, serta penempatan tulang-belulang dalam tambak, keputusan untuk memberikan ruang kepada saudara perempuan bukanlah sesuatu yang kemudian dilihat semata-mata sebagai urusan tempat pemakaman.
Ada pesan kemanusiaan yang jauh lebih dalam: seorang saudara tidak dilupakan hanya karena ia perempuan.
Kebesaran hati seorang ito
Bagi keluarga, tindakan Mangga Albinus bukan sekadar memberikan izin.
Itu merupakan bentuk penghormatan seorang ito/abang kepada ito/saudara perempuannya.
Manjur boru Simarmata tetap ditempatkan sebagai bagian dari keluarga. Holi-holinya diberikan tempat untuk beristirahat bersama keluarga besar Simarmata.
Sikap tersebut menjadi semakin bermakna ketika melihat posisi Mangga Albinus dalam perjalanan Punguan Simarmata.
Ia bukan tokoh biasa. Sebagai Ketua Umum Punguan Simarmata se-Indonesia pada 1973–1986, ia berada pada masa ketika organisasi punguan dan ikatan kekerabatan Batak sedang memainkan peran penting dalam memperkuat hubungan antar keturunan Simarmata di berbagai daerah.
Namanya juga dikaitkan dengan pemrakarsaan pembangunan Tugu Simarmata di Desa Simarmata, Kecamatan Simanindo.
Karena itu, keputusan pribadinya terhadap holi-holi Manjur boru Simarmata menjadi bagian dari kenangan keluarga yang memiliki makna tersendiri.
Cucu yang terharu melihat keputusan opungnya
Salah seorang cucu Mangga Albinus Simarmata, yakni : Dr drh R Wendeilyna Simarmata, MSi (CMed CPP CIJ CPW), mengaku sangat terharu sekaligus kagum ketika mengenang tindakan opungnya tersebut.
Sebagai perempuan Batak, ia melihat keputusan Mangga Albinus bukan hanya dari sisi hubungan keluarga, tetapi juga dari perspektif penghormatan terhadap perempuan dalam keluarga Batak.
Baginya, kebesaran hati itu justru terlihat ketika seorang laki-laki yang memiliki kedudukan dalam keluarga dan punguan mampu memberikan tempat kepada saudara perempuannya.
Ada kasih yang tidak berhenti ketika seseorang meninggal.
Ada hubungan saudara yang tetap dijaga bahkan setelah yang tersisa hanyalah tulang-belulang.
Dan ada penghormatan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di luar kebiasaan, tetapi menyimpan pesan kemanusiaan
Kisah Manjur boru Simarmata menjadi menarik karena keputusan tersebut dipandang keluarga sebagai sesuatu yang di luar kebiasaan atau tradisi yang lazim dikenal dalam sebagian praktik adat Batak.
Namun justru di situlah nilai kemanusiaannya muncul.
Adat pada dasarnya tidak hanya berbicara mengenai aturan, tetapi juga mengenai bagaimana manusia memperlakukan keluarganya.
Mangga Albinus memperlihatkan bahwa hubungan parsaudaraan dapat menjadi dasar untuk membuka ruang penghormatan bagi seorang saudara perempuan.
Ia tidak membiarkan identitas sebagai perempuan membuat Manjur boru Simarmata kehilangan tempat dalam kenangan keluarga.
Holi-holi Manjur boru Simarmata akhirnya ikut dinaikkan dan ditempatkan di tambak keluarga.
Bagi generasi cucu, peristiwa itu bukan sekadar catatan tentang sebuah prosesi adat.
Itu adalah warisan nilai.
Tambak bukan hanya tempat tulang-belulang
Dalam budaya Batak, tambak memiliki makna yang jauh melampaui tempat menyimpan tulang-belulang.
Tambak menjadi ruang untuk mengingat asal-usul keluarga, leluhur, hubungan darah dan sejarah sebuah keturunan.
Karena itu, ketika holi-holi seseorang ditempatkan di sana, yang ikut ditempatkan sesungguhnya adalah memori keluarga.
Bagi Wendeilyna, tindakan opungnya menjadi pelajaran yang terus hidup.
Bahwa seseorang dapat dikenang bukan hanya karena jabatan yang pernah disandang, tetapi karena keputusan kemanusiaan yang pernah dibuatnya.
Mangga Albinus boleh saja dikenang sebagai Ketua Umum Punguan Simarmata se-Indonesia dan sebagai salah satu pemrakarsa pembangunan Tugu Simarmata di Desa Simarmata
Namun bagi cucu dan keturunannya, ada satu hal lain yang tidak kalah penting untuk diwariskan:
kebesaran hati seorang saudara laki-laki yang memberikan tempat bagi holi-holi saudara perempuannya.
Di situlah kisah Manjur boru Simarmata menjadi lebih dari sekadar cerita tentang panakok saring-saring.
Ia menjadi cerita tentang kasih seorang saudara, penghormatan terhadap perempuan Batak, dan kebesaran hati yang terus dikenang oleh keturunannya.
Sebab pada akhirnya, yang diwariskan keluarga bukan hanya nama dan marga.
Yang diwariskan juga adalah cara menghormati orang yang telah lebih dahulu pergi (red)

Popular Articles