Lumban Suhi Suhi Toruan, tarombotvmedia — Ada tradisi dalam kehidupan masyarakat Batak yang membuat hubungan antara orang yang masih hidup dengan mereka yang telah meninggal tidak berhenti pada prosesi pemakaman.
Hubungan itu terus dirawat melalui keluarga, tanah leluhur, tambak, serta penghormatan terhadap holi-holi atau tulang-belulang orang yang telah lebih dahulu meninggal.
Gambaran tersebut terlihat di Dusun 3 Alngit, Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.
Di belakang rumah keluarga OH Simarmata, SH / Opung Reiner Parlindungan, berdiri tambak keluarga yang menyimpan holi-holi sejumlah anggota keluarga.
Di tempat itu terdapat holi-holi istri tercintanya, Rusli Aminah boru Pasaribu; ayahandanya, Mangga Albinus Simarmata gelar Voorzitter; ibundanya, Katarina boru Manik; kakeknya, Amandangas; neneknya, boru Sinaga; serta namborunya, Manjur boru Simarmata.
Tambak Bukan Sekadar Tempat Pemakaman
Dalam konteks budaya Batak, tambak keluarga tidak selalu dapat dipahami hanya sebagai tempat pemakaman.
Ia dapat menjadi penanda hubungan keluarga, ruang mengenang leluhur, sekaligus bagian dari perjalanan sejarah sebuah keturunan.
Karena itu, keberadaan tambak di sekitar rumah keluarga OH Simarmata SH memiliki cerita tersendiri.
Rumah menjadi tempat kehidupan berlangsung, sementara tambak menjadi salah satu ruang yang mengingatkan generasi berikutnya kepada orang-orang yang telah lebih dahulu menjalani kehidupan.
Di situlah hubungan antara rumah, keluarga, leluhur dan tanah asal menjadi satu kesatuan.
Holi Holi dan Ingatan Antargenerasi
Yang menarik bukan hanya keberadaan tambaknya, tetapi siapa saja yang berada di dalamnya.
Nama-nama tersebut merupakan bagian dari perjalanan keluarga OH Simarmata SH.
Holi-holi mereka tidak hanya menyimpan kenangan tentang seseorang yang pernah hidup, tetapi juga menjadi pengingat mengenai hubungan darah dan sejarah keluarga.
Bagi generasi yang masih hidup, mengenal siapa yang telah mendahului menjadi bagian penting dalam memahami dari mana mereka berasal.
Dengan demikian, tambak dapat menjadi semacam penanda sejarah keluarga yang diwariskan secara turun-temurun.
Kisah Manjur Boru Simarmata
Kisah ini semakin menarik jika dikaitkan dengan Manjur boru Simarmata.
Dalam sebuah ulaon mangokal holi keluarga, holi-holi Manjur boru Simarmata turut dinaikkan atau panakok saring-saring ke tambak keluarga.
Menurut kisah keluarga yang diberitakan sebelumnya, Mangga Albinus Simarmata gelar Voorzitter mengizinkan holi-holi ito/saudara perempuannya itu ditempatkan bersama holi-holi kedua orangtuanya dalam satu tambak baru.
Bagi keturunannya, tindakan tersebut kemudian dikenang bukan sekadar sebagai keputusan mengenai tempat pemakaman, tetapi sebagai gambaran hubungan persaudaraan yang tetap dihargai.
Tanah Leluhur dan Identitas Keluarga
Di tengah perubahan zaman, persoalan tanah keluarga Batak sering kali tidak hanya berkaitan dengan nilai ekonomi.
Tanah juga dapat memiliki hubungan dengan identitas, sejarah keluarga dan leluhur.
Karena itu, keberadaan rumah dan tambak keluarga di tanah asal memiliki makna yang berbeda dengan sekadar kepemilikan sebidang tanah.
Di Lumban Suhi-Suhi Toruan, keberadaan kawasan keluarga seperti ini memperlihatkan bagaimana sebuah keluarga tetap mempertahankan jejak keberadaannya di tanah leluhur. 
Bukan hanya bangunan rumah yang diwariskan, tetapi juga cerita mengenai orang-orang yang pernah hidup di dalamnya.
OH Simarmata SH Telah Menentukan Tempatnya
Dalam kisah keluarga tersebut, OH Simarmata SH juga telah menentukan tempat yang kelak menjadi peristirahatan terakhirnya.
Tempat itu berada di lingkungan tambak keluarga, berdampingan dengan orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengannya.
Pilihan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk keterikatan dengan keluarga dan tanah asal.
Ia seolah ingin tetap berada dalam satu lingkungan dengan orang-orang yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Bukan soal kematian semata.
Ada pesan mengenai pulang, keluarga dan tanah asal.
Ketika Tambak Menjadi Penanda Sejarah
Pada akhirnya, cerita tentang tambak keluarga OH Simarmata SH di Alngit bukan hanya cerita mengenai sebuah tempat peristirahatan terakhir.
Di dalamnya terdapat kisah tentang orangtua, pasangan hidup, saudara, kakek-nenek dan leluhur.
Ada pula cerita tentang bagaimana generasi yang masih hidup memandang mereka yang telah pergi.
Tambak menjadi penanda bahwa sebuah keluarga pernah hidup, tumbuh dan meninggalkan jejak di tanah leluhurnya.
Sementara rumah di sampingnya menjadi ruang tempat generasi berikutnya meneruskan kehidupan.
Rumah menyimpan kehidupan. Tambak menyimpan kenangan. Tanah leluhur mengikat keduanya.
Di Lumban Suhi-Suhi Toruan, ketiganya menjadi bagian dari satu cerita keluarga Batak yang terus diwariskan dari generasi ke generasi (red)

