Top 5 This Week

Related Posts

Hatoguan Sitanggang, APA MAKNA SI RAJA BATAK TUJUH KALI NAIK DAN TUJUH KALI TURUN DARI DOLOK NATIMBO ?

Pusuk Buhit, tarombotvmedia – Menelusuri Tonggo-Tonggo Tumulajadi Nabolon dan Jejak Awal Peradaban Batak

Dalam tradisi dan penuturan lisan masyarakat Batak, terdapat kisah mengenai perjalanan Siraja Batak ke Dolok Natimbo atau Pusuk Buhit, yang dikaitkan dengan penyampaian doa atau tonggo-tonggo kepada Tumulajadi Nabolon.

Kisah tersebut tidak semata-mata menarik untuk dilihat dari sisi kepercayaan, tetapi juga dapat menjadi salah satu bahan untuk menelusuri bagaimana leluhur Batak memahami hubungan antara manusia, alam, kehidupan sosial, hukum, pemerintahan, pengobatan, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Menurut penuturan yang diwariskan secara lisan, Siraja Batak menaiki Dolok Natimbo dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Dalam perjalanan tersebut dikenal ungkapan: “Sianjur mula Sijambur, mula tompa.”

Sesampainya di kawasan Dolok Natimbo, Siraja Batak menyampaikan tonggo-tonggo yang dalam tradisi tersebut dikenal sebagai Tonggo Namartua Dolok Natimbo, Pusuk Buhit.

Tonggo-Tonggo Namartua Dolok Natimbo

Dalam penuturan yang diwariskan secara turun-temurun, bagian-bagian tonggo tersebut antara lain:

1. “Asi mari ma Hamu Badia ni Daompung na Umpago, balik huhu na sumuan, bagun-bangun mula api martimpul di Parik Sabungan, di tano Sianjur mulana.”

2. “Ompunta namartua sidogor-dogor, mulani pulungan ubat-ubatan, ubat-ubatan ni Sibaso Bolon.”

3. “Pungka ni baion login, mula ni pagar Situmbur Bura Dorma sahuta, sipadiam ni Batak.”

4. “Mula ni dundang, mulani sahala, mulani ampang, siopat suhi solup, siopat bale.”

5. “Sitiop gantang, pamonaran, santahon hatina tarajuan.”

6. “Parpustaha so haduduhan, parpidong nanggarjati, pidong marhata hata tu jolma, manusia tu Debata Tonga.”

7. “Parpelean horbo silintong-tunggal nadongguran, horbo sitikko tanduk jantan di portibi.”

8. “Na uja sandar, na uja sorang di Rajanta, Siraja Hatorusan, natorus tu banua ginjang, napasahat tu Ompunta Tumulajadi Nabolon.”

9. “Asa ibana ma hape tantan laho mijur, hoda na laho tu Banua Ginjang, mula ni parik dohot uhum, hatubuan ni Hariara Sundung na tu Banua Ginjang.”

Tujuh Kali Naik dan Tujuh Kali Turun

Dalam cerita yang berkembang secara turun-temurun, perjalanan Siraja Batak ke Dolok Natimbo tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan fisik. Terdapat konsep tujuh kali naik dan tujuh kali turun yang menjadi bagian dari kerangka cerita perjalanan tersebut.

Makna angka tujuh dalam tradisi ini menarik untuk dikaji lebih lanjut. Apakah angka tersebut merupakan penggambaran perjalanan secara harfiah, simbolik, atau bagian dari struktur pengajaran leluhur yang diwariskan secara lisan?

Pertanyaan tersebut penting karena sejarah masyarakat tradisional tidak selalu diwariskan melalui tulisan. Sebagian sejarah justru bertahan melalui umpasa, tonggo-tonggo, tarombo, nama tempat, hukum adat, serta ingatan kolektif masyarakat.

Karena itu, kisah tujuh kali naik dan tujuh kali turun perlu ditempatkan terlebih dahulu sebagai tradisi lisan yang perlu diteliti, bukan langsung diposisikan sebagai fakta sejarah yang telah terbukti secara akademis.

Dolok Natimbo sebagai Ruang Ingatan Leluhur

Pusuk Buhit dan kawasan sekitarnya hingga kini memiliki posisi penting dalam ingatan budaya masyarakat Batak. Bagi sebagian masyarakat, kawasan tersebut mempunyai nilai sakral dan spiritual yang sangat kuat.

Namun, mengenai adanya kekuatan gaib atau kesakralan tertentu, hal tersebut tentu kembali kepada keyakinan masing-masing.

Tulisan ini tidak bermaksud memaksakan kepercayaan kepada siapa pun. Yang ingin saya lakukan adalah melihat apa yang tersimpan di balik cerita tersebut.

Apabila tonggo-tonggo tersebut diperhatikan secara lebih teliti, di dalamnya terdapat berbagai istilah yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat, antara lain:

Huta dan parik, yang berkaitan dengan ruang permukiman dan perlindungan;

Uhum, yang berkaitan dengan aturan atau hukum;

Siopat suhi dan siopat bale, yang berkaitan dengan struktur sosial;

Pustaha, yang mengingatkan pada tradisi pengetahuan dan pencatatan;

Ubat-ubatan, yang menunjukkan pengetahuan mengenai pengobatan;

Sahala, yang berkaitan dengan konsep kewibawaan atau kekuatan kepemimpinan;

Horbo, yang berkaitan dengan kehidupan ekonomi, persembahan, dan status sosial; serta hubungan antara manusia, alam, dan Debata.

Dengan demikian, tonggo-tonggo tersebut dapat dipandang sebagai salah satu sumber untuk mengajukan pertanyaan mengenai struktur peradaban masyarakat Batak pada masa lampau.

Menelisik Sejarah dari Hal-Hal Kecil

Saya menyadari bahwa sebuah tonggo-tonggo tidak dapat dijadikan satu-satunya bukti untuk menetapkan seluruh sejarah peradaban Batak.

Namun, sejarah tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang sejarah justru dapat ditelusuri dari hal-hal kecil: sebuah nama tempat, sebuah istilah, sebuah tonggo, sebuah umpasa, sebuah tarombo, sebuah batu, sebuah makam, sebuah huta, sebuah parik, sebuah register, atau sebuah cerita yang masih diingat masyarakat.

Hal-hal kecil tersebut kemudian dapat dibandingkan dengan berbagai sumber lain, seperti arsip kolonial, register kampung, register bius, dokumen pemerintahan, peninggalan arkeologis, manuskrip, silsilah keluarga, serta penelitian akademis.

Dari proses perbandingan tersebut, barulah dapat dilihat apakah suatu tradisi memiliki hubungan dengan fakta sejarah tertentu, mengalami perubahan dalam perjalanan waktu, atau merupakan simbol budaya yang berkembang dalam masyarakat.

Dari Pusuk Buhit Menuju Peradaban Batak

Karena itu, kisah Siraja Batak di Dolok Natimbo bukan hanya menarik untuk dipandang sebagai cerita tentang seorang leluhur yang berada di puncak gunung.

Kisah tersebut juga dapat menjadi pintu masuk untuk mengajukan pertanyaan yang lebih besar.

Bagaimana masyarakat Batak pada masa lampau memahami pemerintahan?

Bagaimana hukum dan uhum dibentuk?

Bagaimana sebuah huta berdiri dan dilindungi?

Bagaimana pengetahuan mengenai pengobatan diwariskan?

Bagaimana hubungan manusia dengan alam dibangun?

Bagaimana struktur sosial terbentuk?

Dan yang paling penting, bagaimana ingatan mengenai semua itu diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, menurut saya, jauh lebih penting daripada sekadar memperdebatkan apakah seseorang harus percaya atau tidak terhadap kesakralan Pusuk Buhit.

Sebab, penelitian sejarah pada akhirnya bukan hanya mencari sesuatu untuk dipercaya, melainkan mencari jejak yang dapat diperiksa, dibandingkan, dan dipertanggungjawabkan.

Saya mencoba memulai penelusuran sejarah peradaban Bangso Batak dari hal-hal yang selama ini mungkin dianggap kecil.

Salah satunya adalah Tonggo-Tonggo Namartua Dolok Natimbo Pusuk Buhit dan kisah Siraja Batak tujuh kali naik dan tujuh kali turun.

Mungkin masih banyak versi lain dari tonggo-tonggo tersebut yang hidup di tengah masyarakat. Mungkin pula terdapat perbedaan pengucapan, susunan kalimat, maupun pemaknaan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Perbedaan tersebut justru menjadi bahan penting untuk penelitian.

Karena itu, tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai akhir dari sebuah kesimpulan sejarah. Ini hanyalah sebuah upaya untuk membuka kembali pintu penelusuran.

Dari sebuah tonggo.

Dari sebuah nama.

Dari sebuah tempat.

Dari sebuah cerita leluhur.

Kemudian, semuanya dibandingkan dengan sumber-sumber sejarah lainnya.

Dengan cara demikian, hal-hal kecil yang masih tersimpan dalam ingatan masyarakat mungkin dapat menjadi petunjuk untuk memahami perjalanan panjang sejarah dan peradaban Bangso Batak (Hatoguan Sitanggang Pemerhati Adat & Budaya Batak di Pangururan)

Popular Articles