Lumban Suhi Suhi Toruan, tarombotvmedia – Gelar Doktor bagi seorang perempuan bukan sekadar deretan huruf di depan nama. Bagi Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata MSi (CMed CPP CIJ CPW) perjalanan meraih gelar akademik tertinggi itu adalah sebuah perjalanan panjang yang berawal dari sebuah harapan sederhana seorang ibu.
Tesisnya berjudul “Hubungan motivasi dan training terhadap peningkatan produktivitas kerja karyawan”, yang diterbitkan oleh FISIP UI pada 2002. Penelitian tersebut mengambil objek karyawan Rumah Sakit Hewan Mount Pleasant Singapura.
Dengan demikian, perjalanan akademiknya tidak berhenti pada ilmu veteriner. Ia kemudian masuk ke wilayah manajemen sumber daya manusia dan ilmu sosial.
Jadi, kalau disederhanakan, perjalanan pendidikannya bergerak dari:
kedokteran hewan → ilmu sosial/manajemen → pemerintahan.
Itu menjadi salah satu fondasi mengapa kemudian aktivitasnya tidak hanya berkaitan dengan profesi dokter hewanemiknya menunjukkan bahwa Rotua Wendeilyna Simarmata memiliki pendidikan dasar profesi di bidang kedokteran hewan.
Ia menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk bidang kedokteran hewan. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Alm Rusli Aminah boru Pasaribu, sang ibu, pernah menginginkan putrinya menjadi seorang doktor.
Keinginan itu kemudian menjadi semacam pesan yang terus hidup dalam perjalanan pendidikan Wendeilyna.
“Ibu saya, alm Rusli Aminah boru Pasaribu, yang menginginkan saya menjadi doktor,” demikian kenangan yang menjadi bagian penting dari perjalanan akademiknya.
Harapan seorang ibu itu akhirnya terwujud.
Wendeilyna menempuh pendidikan doktoral di Program Ilmu Pemerintahan, FISIP Universitas Padjadjaran (Unpad). Ia mulai menempuh pendidikan S3 pada 2004 dengan dukungan beasiswa Bappenas, dan menyelesaikan perjalanan akademiknya hingga meraih gelar doktor pada 2010.
Enam tahun bukan waktu yang singkat.
Di balik gelar doktor tersebut terdapat proses panjang: perkuliahan, penelitian, penulisan disertasi, berbagai tuntutan akademik, serta perjuangan menyelesaikan pendidikan hingga akhirnya berada pada tahap wisuda.
Bukan Sekadar Gelar
Bagi Wendeilyna, gelar doktor tidak berhenti pada pencapaian pribadi.
Ia melihat pendidikan sebagai sesuatu yang harus mempunyai arti setelah seseorang menyelesaikan bangku kuliah.
Karena itu, perjalanan akademiknya kemudian berkelindan dengan pilihan untuk kembali mendekat kepada tanah leluhur keluarganya di Samosir.
Ada ungkapan yang menggambarkan pilihan tersebut: pulang bukan sekadar pulang, tetapi membawa ilmu untuk mengabdi di tanah leluhur.
Di titik inilah gelar doktor mendapatkan makna yang lebih luas.
Pendidikan yang ditempuh jauh dari kampung halaman pada akhirnya kembali dibawa kepada masyarakat dan tanah leluhur.
Perempuan yang pertama meraih gelar akademik Doktor di Keluarga Besar Simarmata
Dalam perjalanan keluarganya, pencapaian tersebut juga memiliki makna khusus.
Wendeilyna menyebut dirinya sebagai perempuan pertama di keluarga besar marga Simarmata yang meraih gelar doktor.
Pencapaian itu bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ada nama ibu yang selalu berada di belakang perjalanan tersebut.
Alm Rusli Aminah boru Pasaribu menjadi bagian dari kisah yang tidak bisa dipisahkan dari keberhasilan akademiknya.
Seorang ibu yang menginginkan anak perempuannya menjadi doktor akhirnya menyaksikan cita-cita itu diwujudkan melalui perjalanan panjang sang anak.
Gelar Dr. yang kini melekat di depan nama Wendeilyna menjadi pengingat bahwa sebuah harapan keluarga dapat berubah menjadi kenyataan ketika diperjuangkan dengan pendidikan dan ketekunan.
Dari Pendidikan ke Pengabdian
Perjalanan Wendeilyna juga memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi tidak selalu harus berakhir dengan kehidupan yang jauh dari daerah asal.
Setelah melewati perjalanan pendidikan dari jenjang sarjana hingga doktoral, ia memilih membawa pengalaman dan pengetahuannya kembali ke lingkungan yang memiliki ikatan kuat dengan sejarah keluarganya.
Samosir bukan sekadar tempat geografis.
Bagi Wendeilyna, Samosir adalah tanah leluhur.
Dari sanalah kisah keluarga dan identitas marganya berakar. Karena itu, kepulangan ke Samosir menjadi bagian dari perjalanan hidup yang lebih besar: menghubungkan pendidikan, keluarga, tanah leluhur dan pengabdian.
Pesan yang Ditinggalkan Sang Ibu
Jika ada satu bagian paling emosional dari perjalanan ini, mungkin bukan ketika gelar doktor itu akhirnya diraih.
Melainkan ketika mengingat bahwa di balik pencapaian tersebut pernah ada seorang ibu yang menyimpan harapan.
“Saya ingin kamu menjadi doktor.”
Harapan itu kemudian dijalani bertahun-tahun.
Masuk pendidikan doktor pada 2004.
Menjalani proses akademik selama sekitar enam tahun.
Menyelesaikan pendidikan pada 2010.
Dan akhirnya menyandang gelar doktor.
Bagi Wendeilyna, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan seorang perempuan bukan hanya tentang memperoleh gelar.
Pendidikan dapat menjadi warisan nilai dari orang tua kepada anak.
Dan dalam kisahnya, gelar doktor itu sekaligus menjadi bentuk penghormatan kepada seorang ibu: Rusli Aminah boru Pasaribu, yang pernah menitipkan sebuah cita-cita kepada putrinya.
Cita-cita itu kini telah menjadi kenyataan.
Dari doa seorang ibu, lahirlah seorang doktor perempuan.
Dan dari perjalanan panjang itu, Wendeilyna memilih membawa ilmu tersebut kembali ke tanah leluhur Samosir (red)

