Samosir, tarombotvmedia – Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, mencatatkan kunjungan tak terlupakan ke kawasan Danau Toba pada 15 Juli 1952. Kehadiran Sang Proklamator disambut penuh kehormatan dan sukacita oleh tokoh masyarakat, kader Partai Nasional Indonesia (PNI), serta ribuan warga dari segenap penjuru Tapanuli.
Salah satu tokoh yang menyambut langsung dan berperan besar dalam kelancaran kunjungan ini adalah pengusaha sukses sekaligus pemangku adat Somuntul Bungajalan Pasaribu yang bergelar Tuan Sariburaja, didampingi istrinya tercinta Tamelan Boru Naibaho Sitangkaraen.
Perjalanan dan Rangkaian Kunjungan
Rombongan Bung Karno tiba di Pelabuhan Balige pada pagi hari, disambut antusias oleh pejabat daerah, tokoh adat, dan Tuan Sariburaja yang sengaja menyeberang dari Samosir untuk menyambutnya. Selama berada di Tapanuli, Bung Karno melakukan sejumlah kegiatan:
- Berdialog akrab dengan warga di tepi Danau Toba dan sekitar Pelabuhan Ajibata
- Menyampaikan pidato bersejarah di Lapangan Umum Balige di hadapan ribuan warga
- Berziarah ke Pesanggrahan Bung Karno di Parapat, tempat yang pernah menjadi lokasi pengasingannya oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1949
Perlu dicatat bahwa dalam kunjungan kali ini, Bung Karno tidak menyeberang ke Pulau Samosir maupun mengunjungi wilayah Pangururan.
Pengorbanan dan Dukungan Luar Biasa Somuntul Bungajalan (Tuan Sariburaja)
Meskipun Bung Karno tidak berkunjung langsung ke kediamannya, peran Tuan Sariburaja dan istrinya Tamelan Boru Naibaho Sitangkaraen sangatlah krusial. Sebagai pemilik CV Sariburaja—perusahaan transportasi dan perdagangan terbesar di kawasan itu pada masanya—beliau menyediakan secara cuma-cuma seluruh armada kapal penyeberangan dan bus miliknya untuk kebutuhan pergerakan, pengamanan, serta logistik rombongan Presiden.
Dalam pertemuan tersebut, Tuan Sariburaja menyampaikan aspirasi seluruh masyarakat Samosir sekaligus menegaskan dukungan penuh atas kepemimpinan Bung Karno ;
“Kehadiran Bung Karno di tanah Batak adalah kehormatan bagi kita semua. Segala apa yang saya miliki, adalah milik negara dan rakyat.”
Di sisi lain, kader dan pengurus PNI wilayah Tapanuli Utara juga bergerak cepat: memobilisasi warga, mengatur jalur keamanan, serta menyebarkan pesan persatuan hingga ke desa-desa terpencil di sekitar Balige dan Parapat. Perwakilan PNI menyatakan bahwa kehadiran Bung Karno semakin menguatkan tekad warga untuk bersatu membangun daerah dan menjaga keutuhan bangsa.
Pidato Bung Karno : Pujian dan Harapan
Di hadapan ribuan warga yang berdesak-desakan, Bung Karno menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam:
“Terima kasih sebesar-besarnya kepada Tuan Sariburaja dan Ibu Tamelan, kawan-kawan PNI, serta seluruh rakyat Tapanuli. Kalian telah membuktikan bahwa persaudaraan sejati tidak terhalang oleh jarak, sungai, maupun pulau.”
Beliau pun menyatakan kekagumannya atas keindahan Danau Toba sebagai “permata terindah di bumi pertiwi”, lalu mengajak warga untuk menjaga kelestarian alam dan menjaga persaudaraan sebagai harta paling berharga bangsa.
Secara khusus, Bung Karno memuji Tuan Sariburaja dan istrinya Tamelan Boru Naibaho Sitangkaraen sebagai contoh nyata putra daerah yang berbakti pada negara tanpa pamrih, dan berharap semangat mulia itu menular ke seluruh pelosok Sumatera Utara (red)
Sumber Sejarah
Artikel ini disusun berdasarkan:
- Kesaksian langsung dari cerita lisan Alm. Rusli Aminah boru Pasaribu, putri sulung Tuan Sariburaja
- Penuturan turun-temurun keturunan keluarga
- Catatan resmi kunjungan Presiden Soekarno ke Sumatera Utara tahun 1952
- Arsip sejarah Pesanggrahan Bung Karno Parapat
- Warisan cerita rakyat dari warga Balige, Parapat, dan Pangururan




