Lumban Suhi Suhi Toruan, tarombotvmedia – Istilah Si Pungka Huta memiliki makna penting dalam kebudayaan Batak. Bukan sekadar sebutan bagi orang yang pertama kali membuka suatu kampung, Si Pungka Huta juga berkaitan dengan sejarah terbentuknya sebuah komunitas, kepemimpinan, gotong royong, hingga hubungan sosial dalam masyarakat Batak.
Hal tersebut dijelaskan dalam dokumen keterangan Program Studi Sastra Batak, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (USU) tertanggal 25 Februari 2026, yang ditandatangani Ketua Program Studi Sastra Batak dan ahli bahasa/budaya.
Berasal dari Kata “Si”, “Pungka” dan “Huta”
Berdasarkan etimologi atau ilmu asal-usul kata, Si Pungka Huta dibentuk dari tiga kata, yaitu si + pungka + huta.
Dalam Kamus Batak-Indonesia J. Warneck, kata si bermakna “yang” atau menunjuk kepada orang dengan kata benda. Sementara pungka berarti “mulai” atau “memulai”, sedangkan huta berarti “desa” atau “kampung.
Dengan demikian, Si Pungka Huta dapat dimaknai sebagai orang yang memulai perkampungan atau orang yang pertama membuka kampung.
Dalam tradisi masyarakat Batak, posisi tersebut mempunyai arti sosial dan historis yang kuat. Orang yang membuka kampung bukan hanya dituntut memiliki kemampuan secara materi, tetapi juga mempunyai kemampuan untuk mengutarakan gagasan kepada orang lain dan mengorganisasi kehidupan awal masyarakat.
Setelah kampung dibuka, orang tersebut kemudian dapat menjadi salah satu tokoh yang memimpin komunitas di kampung tersebut.
Membuka Kampung Tidak Dilakukan
Sembarangan
Dokumen USU tersebut juga menjelaskan bahwa pembukaan kampung dalam masyarakat Batak harus diketahui oleh raja-raja di wilayah yang akan menjadi tempat perkampungan.
Artinya, pembukaan sebuah huta bukan semata-mata keputusan pribadi. Ada proses sosial dan adat yang harus dilalui, termasuk kesepakatan para raja di daerah tersebut.
Setelah mendapat persetujuan, dilakukan pembuatan benteng tanah atau parit secara gotong royong.
Biaya untuk membuat benteng tersebut, termasuk menyediakan makanan bagi para pekerja yang bergotong royong, menjadi tanggung jawab pemilik kampung. Biaya tersebut biasanya dibagi kepada keluarga-keluarga yang tinggal di kampung.
Benteng tanah tersebut dibuat dari kumpulan tanah berbentuk segi empat yang disebut bungki. Tanah disusun secara rapi mengelilingi kampung. Setelah benteng cukup tinggi, biasanya ditanami bambu sehingga memberikan perlindungan kepada masyarakat yang tinggal di dalamnya.
Huta Memiliki Gerbang untuk Keamanan
Dalam tata kehidupan masyarakat Batak dahulu, sebuah huta juga mempunyai sistem perlindungan dan pengawasan.
Kampung memiliki dua gerbang atau harbangan, yaitu gerbang masuk dan gerbang keluar.
Pembuatan gerbang tersebut bukan hanya persoalan tata ruang, tetapi juga berkaitan dengan keamanan dan penjagaan kampung.

Dengan demikian, konsep huta sejak awal memperlihatkan adanya organisasi sosial, pembagian tanggung jawab, kepemimpinan, serta sistem perlindungan masyarakat.
Mangongkal Holi: Mengangkat Tulang Leluhur sebagai Penghormatan
Selain mengenai Si Pungka Huta, dokumen Program Studi Sastra Batak USU tersebut juga menjelaskan mengenai mangongkal holi, yakni upacara menggali atau mengangkat tulang-belulang orang yang telah meninggal setelah puluhan tahun berada di dalam makam.
Dalam budaya Batak, mangongkal holi merupakan salah satu upacara adat yang memiliki nilai sakral dan simbolik tinggi.
Upacara tersebut melambangkan penghormatan kepada leluhur, silsilah, serta status sosial sebuah keluarga.
Kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat Batak menempatkan tulang-belulang leluhur di tempat yang lebih tinggi dan bersih. Arwah leluhur dipercaya akan menjadi Simotung, yakni penjaga yang memberikan berkah bagi keturunannya yang masih hidup.
Dalihan Na Tolu Hadir dalam Pelaksanaan Adat
Pelaksanaan mangongkal holi tidak berdiri sendiri. Dalam acara tersebut terdapat keterlibatan unsur-unsur Dalihan Na Tolu.
Dokumen tersebut menjelaskan bahwa penggalian kuburan harus dihadiri perwakilan dari masing-masing unsur tersebut.
Pihak pemberi istri atau hula-hula mempunyai peran sebagai penampung tulang-belulang atau panampin.
Keluarga juga harus mempersiapkan sehelai ulos Batak sebagai tempat tulang-belulang. Setelah tulang diangkat, tulang tersebut dibersihkan dan kemudian dimasukkan ke dalam peti kecil.
Selanjutnya, tulang-belulang dipindahkan ke tugu yang telah dipersiapkan.
Menyatukan Kembali Keturunan dalam Satu Makam
Salah satu makna penting mangongkal holi adalah menyatukan kembali keluarga yang selama ini terpisah secara makam.
Tulang-belulang dapat digabungkan dengan tulang saudara, orang tua, kakek-nenek, bahkan buyut dalam satu keturunan.
Karena itu, mangongkal holi bukan hanya ritual pemindahan tulang-belulang. Di dalamnya terdapat pesan tentang persatuan keturunan, penghormatan terhadap leluhur dan kesinambungan silsilah keluarga.
Acara pengangkatan tulang-belulang biasanya dilakukan melalui pesta besar dan dapat disertai pemotongan kerbau serta musik gondang atau ogung sabangunan.
Lamanya pelaksanaan acara bergantung pada kemampuan penyelenggara dan kebutuhan adat.
Pesta Adat Menjadi Marwah Keturunan
Bagi masyarakat Batak, pesta mangongkal holi juga menjadi bagian dari marwah keluarga dan keturunan.
Dokumen USU menyebutkan bahwa pesta tersebut merupakan acara besar yang menggambarkan kemampuan keturunan untuk bekerja sama, menunjukkan kesatuan hati keluarga, serta penghormatan kepada leluhur.
Dari penjelasan tersebut terlihat bahwa Si Pungka Huta dan Mangongkal Holi sama-sama mempunyai kaitan dengan identitas dan kesinambungan komunitas Batak.
Jika Si Pungka Huta berbicara tentang awal terbentuknya sebuah perkampungan, maka mangongkal holi berbicara tentang bagaimana keturunan menjaga hubungan dengan leluhur dan menyatukan kembali garis keturunan.
Keduanya menunjukkan bahwa dalam kebudayaan Batak, sejarah tidak hanya disimpan dalam tulisan, tetapi juga diwariskan melalui huta, silsilah, adat, makam, tugu, dan hubungan Dalihan Na Tolu (red)
Sumber: Keterangan Program Studi Sastra Batak, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, Medan, 25 Februari 2026. Dokumen ditandatangani Ketua Program Studi Sastra Batak Drs. Jekmen Sinulingga, M.Hum. dan Ahli Bahasa/Budaya Drs. Warisman Sinaga, M.Hum.
Tarombo TV Media — Menggali Tarombo, Menjaga Adat, Merawat Sejarah.
Si Pungka Huta dalam Budaya Batak: Pembuka Kampung yang Menjadi Awal Kehidupan Komunitas Dan Acara Mangokal Holi, Kajian Sastra Batak USU

